Jumat, 02 Agustus 2024

Mak Cess

 Mak Cess


    Ketika embun pagi menyentuh daun, seakan menenangkannya dari kerontang hari sebelumnya, datanglah seorang pendidik senior ke hadapanku, membawa beban yang terlihat sepele namun ternyata menyesakkan hati.

    "Assalamualaikum, permisi Pak, saya ingin mencurahkan isi hati," katanya dengan nada yang serupa angin lembut, meski aku tahu di balik kata-katanya, badai sedang bergejolak.

    Dalam hatiku, timbul pertanyaan: Apa gerangan badai yang sedang mengguncang damai hatinya? Bukankah selama ini ia selalu tenang bak danau tanpa riak?

    "Saya kemarin mendapat tugas untuk menghadiri bimtek. Lalu, diberikanlah saya secarik kertas SPPD, dan sekarang sudah cair dana yang diberikan oleh Ibu Bendahara," katanya dengan bibir bergetar, seperti daun di ujung ranting yang rapuh. Namun, sebelum ia melanjutkan, kucegat dengan pertanyaan tajam, "Lalu, apa yang menjadi masalah, Bu?"

    "Saya juga mendapat uang transport dari tempat bimtek, tapi kan aturannya tidak boleh double. Saya takut uang ini berbau haram, Pak," katanya, dan aku bisa merasakan betapa hatinya berguncang seperti daun yang hampir terlepas dari rantingnya.

    Sejenak aku terpaku, pikiranku berlari-lari mencari jawaban yang tepat. Di satu sisi, ada banyak orang yang hanya mau bergerak jika dijanjikan emas atau perak. Namun, di hadapanku, ada jiwa yang menolak limpahan berlebih, khawatir kalau itu adalah tetes air yang mencemari kebeningan hatinya. Di zaman seperti ini, di mana banyak yang menunggu pelangi hanya untuk mengambil emas di ujungnya, aku berhadapan dengan seseorang yang ingin melepaskan emas itu kembali ke alam.

    Dengan hati-hati, aku mencoba merangkai kata-kata, seolah menenun benang sutra dalam diam, "Bu, beberapa kali Ibu telah saya tugaskan dalam berbagai kegiatan, tetapi tidak ada transport atau kompensasi. Maka, apa yang Ibu terima saat ini adalah pengganti dari apa yang telah Ibu keluarkan sebelumnya. Ini bukanlah bayaran ganda yang melampaui batas, melainkan sekadar penyeimbang neraca yang pernah berat sebelah."

    Namun, si ibu tetap teguh, seperti karang di lautan, menghadapi ombak yang terus menggulung. Ia ngotot ingin mengembalikan emas yang ia rasa bukan miliknya.

    Akhirnya, aku menyerah pada kebaikan hatinya, "Bu, jika memang hati Ibu belum juga tenang, belanjakanlah uang itu di mana saja yang menurut Ibu bisa membawa kedamaian. Yakinlah, itu adalah hak yang sudah sepatutnya diterima."

    Dengan wajah sebersih pualam, si ibu akhirnya menerima saranku, dan pergi setelah berpamitan. Ketika ia pergi, aku tertunduk, merenung, dan tersentuh oleh keikhlasannya yang datang dari lubuk hati yang terdalam. Ia bagaikan embun yang menyentuh relung jiwaku, membawa kesejukan yang tak terduga.

    Hatiku menjadi tenang, ayem tentrem, seolah-olah melihat cahaya keemasan turun dari langit, membayangkan jika sikap seperti itu dimiliki oleh banyak orang. Mungkin saja, keberkahan hidup akan mengalir tanpa henti, seperti aliran air jernih yang tak pernah kering. Mak Cess.

Senin, 29 Juli 2024

Karimunjawa

 Healing Tadabbur Karimunjawa 

Jum'at-Ahad,26-28 Juli 2024 


Kapal Kelimutu 

    Melihat schedule perjalanan menuju Karimunjawa dengan menaiki kapal Kelimutu, pikiranku menerawang jauh sekitar 35 tahun yang lalu. Iya karena aku pernah menaiki kapal tersebut dari Surabaya selama kurang lebih 5 hari menuju Kupang NTT. 

    Ternyata kapal Kelimutu masih relatif sama dengan waktu aku menaikinya. Tentu ada perbaikan-perbaikan yang dilakukan atau setidaknya penggantian bagian yang memang layak diganti seperti kasur tempat tidur dan yang lebih membedakan adalah kloset toilet. 

    Ada kenangan sedikit dengan kloset toilet, waktu itu aku kehilangan jam tangan yang pertama kali aku miliki yakni jam tangan merk Alba waktu itu seharga Rp35.000. Sehabis memandikan keponakan dan kuantarkan kepada ibunya, aku menuju kamar mandi lagi untuk mandi, jam tangan kulepas dan ku taruh di saku baju. Ketika aku membuka baju untuk mandi jam tangan itu pun melayang dan jatuh tepat di kloset. Tanganku segera sigap menyusul jam tanganku, dan ternyata klosetnya bukan model leher angsa, tapi langsung ke bawah berupa pipa mungkin langsung ke laut. Melayanglah jam tangan kesayangan.

    Sepanjang perjalanan kurang lebih 7 jam memori teringat ketika mengantarkan keponakan, makanan yang disajikan merupakan makanan cepat saji barangkali artinya memasaknya tidak dengan bumbu yang lengkap. Empuknya kurang mungkin juga bumbunya kurang karena memang memasak untuk ratusan penumpang. Namun bagaimanapun rasanya tetap menjadi santapan wajib untuk menjaga kondisi badan. Dalam perjalanan ini aku tidak sempat ataupun memang tidak diberikan menu makanan pagi karena sampai di pelabuhan Karimunjawa masih sangat pagi sehingga kami pun langsung turun menuju angkutan yang sudah disiapkan oleh event organizer. 

Pohon Jambu Mete

    Dari pelabuhan rombongan kami per 38 orang dibagi menjadi beberapa Armada setiap Armada kurang lebih 6 sampai 7 orang. Untuk tas dijadikan satu dalam mobil pick up. 

    Sepanjang perjalanan kami melihat nyiur melambai ke sana kemari dengan angin khas pantai pagi hari. Perjalanan kurang lebih 40 menit menuju ke bagian lain pulau Karimunjawa yakni ke Java Paradise Resort tempat kami menginap. Di kanan kiri sepanjang perjalanan terdapat banyak pohon mete dengan pohon yang menjulang tidak terlalu tinggi namun besar dengan cabang dan ranting yang begitu banyak. Tentu bertanya-tanya dalam hati kenapa banyak pohon mete yang bisa begitu besar sedangkan di Jawa khususnya di tempat tinggal kami di Sleman tidak banyak lagi pohon mete. Mungkin di Karimunjawa pohon mete menjadi bagian dari komoditas hortikultura.

    Sejenak kami ngobrol dengan driver yang mengantarkan kami ternyata beliau adalah guru olahraga di MTs Ma'arif. Sebagai driver dia melaksanakan tugas berbisnis 4 hari, karena mengajar di sekolah hanya diambil 3 hari, begitulah kehidupan di daerah wisata di mana sumber kehidupan lebih menarik dan lebih menjanjikan di sektor pariwisata. Kijang Innova pun meluncur dengan enak karena jalan sudah relatif diperbaiki dibanding sebelumnya menurut driver dikarenakan pada waktu itu akan dihadiri oleh PJ gubernur namun tidak jadi karena ada acara lain. Alhamdulillah kami menikmatinya jalannya sudah relatif baik.

Pohon Dewandaru 

    Sempat kami tanyakan kepada driver tentang pohon dewandaru. Dikatakan ada tiga pohon yang unik di Karimunjawa yakni pohon dewandaru pohon stigi dan pohon kalimasada. Ketika pohon memiliki keunikan masing-masing yang memang menjadi ciri khas di Karimunjawa. 

    Pohon dewandaru yang menurut mitosnya tidak boleh dibawa keluar dari Karimunjawa, dikatakan boleh dibawa bila dalam bentuk souvenir di mana souvenir tersebut disertakan pula kayu dari pohon kalimasada yang menawarkan mitos untuk tidak dibawa keluar. Sedangkan aksesoris dari pohon stigi dipercaya oleh sebagian orang memiliki kekuatan untuk kesaktian misalnya memiliki kekebalan bagi pemakainya. Semoga yang terakhir ini tidak dipersiapkan karena itu bagian dari kesyirikan yang tentu tidak baik untuk keyakinan atau keimanan

Snorkeling 

    Setelah sarapan pagi di dekat alun-alun Karimunjawa kami pun check in di hotel, hanya untuk menitipkan tas dan keperluan pribadi yang dipercepat karena harus segera mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan yakni snorkeling. Inilah wisata ikonik di Karimunjawa. 

    Rombongan yang terdiri dari 38 orang dibagi menjadi dua kapal kecil, kami harus patuh setiap penumpang mengenakan pelampung demi keselamatan. Sedangkan kru kapal karena sudah terbiasa mereka tidak mengenakan pelampung barangkali karena memang sudah ahli berenang. 

    Perjalanan 30 menit menuju pulau kecil yakni Pulau Menjangan kecil di mana di situ sudah banyak kapal-kapal lain melaksanakan kegiatan yang menyenangkan bagi wisatawan yakni snorkeling. Kapal kami pun segera menyelinap di antara kapal-kapal yang lain karena masih ada tempat yang memungkinkan kami melakukan snorkeling. 

    Pemandu wisata segera menjelaskan bagaimana cara mengenakan perlengkapan snorkeling dan bagaimana untuk bisa melihat keindahan alam ciptaan Tuhan di bawah air. Aku pun tidak ketinggalan segera mengenakan perlengkapan yang diinstruksikan dan perlahan tubuh kebun masuk ke dalam air. Karena tidak bisa berenang aku harus berhati-hati supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 

    Terlihat Bu Nana begitu semangat menyemangati para teman-teman yang lain untuk segera turun dan dikatakan akan diberi saweran. Aku tidak tertarik dengan saweran karena aku memang tidak bisa berenang namun nyaliku tertantang juga untuk turun ketika teman-teman Yang lain sudah turun. Dan begitu menundukkan kepala masuk ke dalam air, subhanallah luar biasa ciptaanMu ya Allah begitu indahnya dunia bawah air. 

    Keindahan bawah air tidak bisa kunikmati cukup lama karena aku tidak terbiasa menahan nafas, meskipun ada alat untuk bernapas menggunakan mulut namun kesulitan aku bernapas dengan mulut karena tidak terbiasa. Alhasil melihat dunia bawah air pun dilakukan sebentar hanya beberapa detik kemudian kepala menyembol ke atas bernapas dengan terengah-engah sambil minum air laut yang asin dan kadang ada yang masuk ke hidung sehingga hidung pun terasa sakit. 

    Berfoto di bawah air menjadi bagian menarik dan itu merupakan paket wisata yang disiapkan oleh pemandu. Aku pun bersiap dengan foto di bawah air yang begitu menakutkan namun ingin pula melakukan karena ibu-ibu pun berani masa aku nggak berani kan malu. Alhamdulillah sesi foto ini pun dapat dilalui dengan membahagiakan meskipun hidung dan mulut terasa sakit sehingga aku segera naik kapal untuk minum dan menetralkan ketakutanku. 

    Keceriaan di tempat snorkeling berlangsung cukup lama sambil teriak-teriak maupun bercanda ria bersama kawan-kawan. Candaria yang menyegarkan dan menyejukkan. 

Menikmati ikan bakar 

    Bagian pengalaman lain yang tidak kalah menarik adalah menikmati ikan bakar di sebuah pulau yang begitu indah dengan pasir putih yang menghampar di mana-mana. Air laut yang begitu dangkal dan tenang sungguh memikat untuk belajar berenang. Kami pun bercanda ria bersenda gurau di dalam air layaknya anak-anak yang sedang bermain. Sungguh bisa melupakan rutinitas yang menjemukan.

    Ada hal yang menarik di mana aku bisa menambang di atas air dengan puisi tidak terlentang di atas air. Belajar ini harus dibayar dengan beberapa kali meminum serta menghirup air laut yang begitu asin dan getir. Bercanda ria sambil telentang di atas air terapung-apung mengikuti arus air tentu cukup aman karena memang pantainya landai jauh dengan ketinggian maksimal setinggi perut. 

    Beruntungnya bisa menikmati indahnya pantai pasir putih dan diakhiri dengan makan ikan bakar khas Karimunjawa, berbagai jenis ikan kami santap dengan takaran yang khas bumbu sambal yang begitu pedas menyimak mulut. Rasa lapar yang begitu mendera memaksa aku untuk mengambil kembali nasi dan sisa-sisa ikan yang masih ada di tempat hidangan. Hal sama dilakukan oleh teman-teman yang lain. 

    Sesi yang tidak kalah menarik adalah foto bersama dengan teriakan-teriakan histeris dan saling berebut untuk membuat kenangan terindah baik pribadi maupun bersama-sama. Tidak lupa pemandu menggunakan drone untuk mendapatkan sudut pandang video yang indah dan mengesankan. Cukup lama sesi foto ini dilakukan karena masing-masing memiliki ide untuk membuat kesan kenangan yang begitu indah.

 Foto bersama Hiu

    Usai makan kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat penangkaran hiu di mana untuk memasukinya kami harus membayar Rp20.000 per orang. Tentu kawan-kawan banyak yang tidak siap dengan biaya dadakan seperti ini ada yang karena memang tidak membawa uang saat snorkeling. Dan beruntungnya sudah dibayarkan oleh salah satu diantara pengurus atau event organizernya. 

    Ibu-ibu dan bapak-bapak saling bergantian untuk sesi foto bersama ikan hiu yang besarnya setidaknya sebesar paha orang dewasa. Ada ketakutan ada jeritan kecil ada wajah yang memerah bahkan ada yang sampai terkencing-kencing dan memang tujuannya kencing di dalam kolam yang langsung berhubung dengan laut dan hanya dibatasi dengan jaring. 

    Bagaimana tidak takut karena hiu termasuk hewan atau ikan yang ganas terkenal sebagai predator yang unggul di lautan. Bahkan oleh pemandu sengaja diberikan umpan berupa ikan yang sudah biasa menjadi santapan hiu dan dilemparkan ke depan peserta wisata yang turun untuk diabadikan dengan foto ataupun video. 

    Tempat penangkaran ini juga terdapat beberapa macam keramba yang diisi dengan ikan-ikan laut sangat besar dan seakan-akan ingin sekali kita menangkap langsung. Namun tentu saja tidak boleh karena memang di situ adalah tempat untuk penangkaran ikan-ikan terutama ikan hiu. Terdapat pula teripang atau bintang laut yang begitu lucu menggemaskan dan beberapa diantara ibu-ibu pun kesempatan memegang dan foto dengan bintang laut.

Gala Dinner

    Kenangan terindah di hotel Java Paradise menjadi lebih lengkap ketika setelah makan malam bakda maghrib diadakan acara gala dinner. Dengan pemandu MC terkenal bapak Agus Istiadi, keadaan pun semakin meriah. Satu persatu para peserta didaulat untuk menyanyi atau mengisi acara dengan kreasi masing-masing. Namun yang banyak diantara teman-teman adalah menyanyikan lagu-lagu kesukaan yang diiringi melalui musik karaoke YouTube. Karena penyanyi tidak bisa melihat tayangan dari YouTube tersebut, alhasil banyak sekali nyanyian yang tidak cocok karena belum hafal antara lirik dengan iringannya. 

    Usai gala dinner teman-teman banyak yang kemudian berbelanja ke alun-alun, dimana di alun-alun memang baru diadakan acara tahunan Barikan Kubro. Sebuah acara tradisional yang menghadirkan banyak sekali stand maupun pentas seni. Banyak yang bercerita tentang kehebohan diacara tersebut. Namun aku lebih suka dan lebih tertarik untuk segera ke kamar dan tidur agar bangun tidak kesiangan.

Bulan separuh di Karimunjawa 

    Cerah ceria pagi hari, angin sepoi sejuk menyejukkan hati. Tempat tidur di bibir indah pantai mengingatkan kembali ketika menginap di Samudra Beach  Hotel Palabuhan Ratu.

    Namun ketika perjalanan menuju masjid untuk berjamaah salat subuh, aku menerawang ke atas terlihat bulan separuh yang begitu cerah menyinari bumi meskipun dengan kekuatan hanya separuh. Ingatan pun menerawang kembali ketika di tahun 1986 aku berwisata ke Pangandaran. 

    Berjalan menuju masjid dimalam hari menjelang fajar menyingsing sendirian, tapak demi tapak ku lalui, melalui warung-warung dan toko yang sudah tutup. Namun masih ada beberapa kupu-kupu malam yang ingin menghisap madu kehidupan dunia yang diinginkan glamournya. Aku pun segera  mempercepat jalan seakan berlari ketakutan agar segera sampai di masjid yang sudah beberapa waktu mengumandangkan puji-pujian menjelang adzan subuh. Persis suasana ini ada di depan Java  paradise hotel. Lah kok ada pasangan muda-mudi dengan celana pendek naik motor dan terlihat begitu mesra, berhenti di depan masjid pula sambil main HP. Duh semoga tidak melakukan hal yang tidak diinginkan ketika belum jadi hak dan kewenangannya.

    Meskipun mendengar puji-pujian di masjid Mereka berdua pun tidak turun dari motor untuk menuju masjid ikut salat memang barangkali bukan warga yang biasa melaksanakan salat. Atau mungkin pula bukan warga asli karena begitu rajinnya pagi-pagi sudah bangun.

    Bulan separuh masih terus tersenyum di atas kepalaku di samping kolam renang di mana angin sepoi terus menerpa tubuhku. Sementara di langit sebelah timur semburat merah sudah mulai nampak dari sang surya yang akan terus menyinari bumi disiang hari Karimunjawa.

Sesi Foto

    Sebelum meninggalkan Hotel tidak lupa rombongan berfoto kembali untuk membuat kenangan terindah di halaman belakang hotel yang tepat sebagai bibir pantai berpasir  putih. Pose demi pose, gaya demi gaya, bahkan gaya gerakan untuk tiktok pun dilakukan dengan kocak dan kompak.

    Sesi foto berlanjut ke bukit cinta, sebuah bukit kecil dengan spot berupa pantai yang indah, pantai dengan latar pelabuhan dan kapal-kapal besar maupun kecil yang sandar dengan dikelilingi pantai pasir putih yang menghampar dan jauh masuk ke laut dengan dangkalan berwarna hijau. Berikut ini banyak sekali kenangan yang bisa dibuat oleh teman-teman sehingga mereka pun ceria. 

    Tidak berlangsung lama kami pun segera meninggalkan tempat menuju pelabuhan kepulangan. Cukup lama di pelabuhan ini kami makan siang sambil berkaraoke bersama kawan-kawan namun aku lebih menyukai untuk menyendiri memandang laut menikmati indahnya dunia. 

Kembali kenangan di Kelimutu 

    Kepulangan kami menggunakan kapal Kelimutu yang berangkat pada pukul 15.00 waktu Indonesia Barat. Tentu berbeda suasana dengan keberangkatan menuju Pulau Karimunjawa. Sore semakin sayup dengan pertanda alam berupa sunset yang menjadi momen ditunggu-tunggu oleh sebagian besar penumpang kapal. Penumpang kapal yang berkesempatan keluar tidak menyia-nyiakan untuk mengabadikan sunset tersebut. 

    Foto menangkap matahari, menelan matahari, ataupun hanya sekedar foto matahari yang akan tenggelam untuk bersembunyi dan beristirahat dari kerja siangnya. Sungguh ciptaan Allah yang luar biasa. Maha besar Allah dengan segala ciptaanNya

Sabtu, 01 Juni 2024

Njomplang di posisi Kepenak

 Njomplang di posisi Kepenak


Mendengar kabar ada kelompok Kepala sekolah yang akan study tour ke Thailand atau ke luar negeri lainnya. Senangnya di posisi kepenak. Mungkin meniru dengan bos bos sebuah perusahaan besar atau konglomerat yang seringkali berlibur ke luar negeri. Memang berada di posisi kepenak. 

Di institusi tersebut tentu ada orang yang berada di posisi tidak atau kurang kepenak. Biasanya di level yang menengah ke bawah. Dengan gaji yang pas-pasan kembang kempis harus memperpanjang nafas untuk sampai akhir bulan. Bahkan pendapatannya jauh di bawah UMR. 

Ironis barangkali bekerja sebagai pendidik tetapi tidak bisa menyekolahkan di tempat yang wajar karena pendapatannya sangat minim. Sisi lain orang yang di posisi kepenak dengan mudah, enak, dan ringan untuk pergi ke luar negeri bersenang-senang bersenda gurau bersama teman selevel. 

Kalau itu dilakukan oleh bos diinstitusi perusahaan murni bisnis, mungkin bisa dianggap wajar saja. Tetapi kalau di institusi pendidikan di mana moral dijunjung tinggi dan diterapkan untuk menjadi model pendidikan bagi para siswa tentu menjadi ironi. 

Alasan apapun bisa dibuat untuk membenarkan apa yang dilakukan. Tetapi rasa empati kepada pegawai di level bawah tentu akan justru menjadi lebih bermartabat untuk kemaslahatan bersama yakni kemaslahatan sosial. 

Disinilah berlaku dilema etika bukan lagi bujukan moral. Dilema etika mengajak insan pendidik untuk memilih sesuatu yang lebih baik, lebih maslahat atau dalam bahasa yang lebih barangkali lebih barokah.

Sebuah refleksi ringan tidak untuk menyudutkan dan tidak untuk politisasi kegiatan/ kejadian.

Kamis, 28 Desember 2023

Mawas dhiri

Gito-gito

Gito-gito adalah ungkapan bahasa Jawa yang bermakna sesegera mungkin melaksanakan.

    Begitulah kira-kira apabila kita mendapatkan undangan dari orang penting seperti mendapatkan undangan dari Gubernur, Bupati, Camat, atau pimpinan tertinggi di tempat kita bekerja.

    Persiapan demi persiapan dilakukan agar tidak mengecewakan di saat menghadap ataupun memenuhi undangan tersebut. Hari demi hari mendekati pelaksanaan banyak hal yang kemudian ditinggalkan untuk mementingkan acara yang begitu penting dalam hidupnya karena menyangkut orang yang penting.

    Ada seperangkat kekhawatiran apabila tidak menghadiri undangan sesuai dengan ekspektasi maka akan berpengaruh terhadap kehidupannya baik karir, jabatan, maupun penghasilan yang tentu mempengaruhi kehidupan keluarga.

Namun

    Banyak diantara kita lupa bahwa setiap hari setidaknya kita dipanggil oleh Yang Maha Kuasa untuk meluangkan waktu sebentar berbakti dengan beribadah. Seringkali ini dipenuhi hanya sekedarnya saja, bahkan asal-asalan atau bahkan kita tidak sama sekali memenuhi panggilan tersebut. Sungguh keterlaluan, padahal yang memegang hidup maupun segala apa yang ada di kehidupan kita adalah Dia Yang Maha Kuasa.

    Panggilan harian atau undangan harian yang semestinya ini menjadi prioritas dalam segala lini kehidupan memang dengan mudah dilalaikan. Persis apa yang disampaikan oleh Imam Al Ghazali, 'hal yang paling ringan untuk ditinggalkan adalah panggilan ini". Karena kita masih punya kuasa untuk menolak atau bahkan melalaikan panggilan harian ini.

    Suatu saat nanti ada panggilan yang memang dipaksa dan tidak bisa kita meninggalkan lagi, apabila waktunya telah tiba panggilan itu adalah panggilan terakhir yang mau tidak mau kita harus menerima nasib terpanggil dengan keadaan sesuai dengan keadaan yang disiapkan.

    Marilah Gito-gito kepada sesuatu yang sangat penting yang menentukan kehidupan kita jauh ke depan yakni kehidupan di akhirat jangan hanya  Gito-gito untuk panggilan kehidupan di dunia.

Kehidupan dunia adalah kesenangan yang melalaikan.

Mari menuju hidup yang lebih baik.

Selasa, 28 November 2023

 Ngajari Elek


Guru biasanya dan seharusnya memberikan pembelajaran karakter yang baik kepada muridnya.

Suatu saat aku mengendarai sepeda motor menuju ke tempat tugas. Di depanku ada keluarga kecil mengantar anaknya dengan sepeda motor ke sekolah. Tiba-tiba sang ibu yang duduk di belakang melemparkan bungkusan ke pinggir jalan yang setelah ku tengok ternyata bungkusan sampah. Sungguh menyedihkan dan memilukan.

Saat ini bertebaran bungkusan-bungkusan sampah di pinggir jalan dari bungkusan yang kecil sampai bungkusan yang besar dengan trashback hitam. Salah siapakah ini atau tugas siapakah ini untuk mendakwahkan agar perbuatan ini tidak dilakukan.

Si ibu pada ceritaku di atas hakikatnya sebagai guru yang mengajari kejelekan kepada anak maupun keluarganya. Hal ini merupakan rekaman panjang akan diterima anaknya bahwa membuang sampah yang penting tidak di rumahnya, alhasil di sekolah bagaimanapun dibiasakan dan diarahkan untuk mengelola sampah dengan baik hasilnya masih mengecewakan.

Di sekolah guru berusaha untuk menyampaikan kebaikan bagaimana mengelola sampah, sedangkan guru yang ada di kehidupan anak mengajari untuk sak penake dewe. Guru di rumah yang ngajari elek.

Senin, 11 September 2023

Good by Matematika ?


Dengan perasaan penuh kebencian seorang siswa mengatakan ingin rasanya berpisah dengan matematika. Sang Guru balik menanyakan apakah hal itu mungkin bisa terjadi?

Matematika merupakan ilmu dasar yang ada di mana-mana dan selalu seseorang bertemu dengan konsep maupun pembelajaran yang di dalamnya terdapat ilmu matematika.

Dari bangun tidur misalnya sampai tidur kembali selalu matematika menemani dimanapun berada. Anda tidur di ruangan berbentuk model sebuah balok karena kamar anda berbentuk seperti itu. Membuka baju dengan membuka kancingnya yang berbentuk model tabung kecil ataupun semacam lingkaran dikancing bajunya.

Menuju kamar mandi di bak mandi umumnya berbentuk model balok dengan kucuran air dari kran yang bisa ditentukan debit air sehingga kapan waktunya penuh air ataupun kapan habis air bisa diperhitungkan.

Makan, minum, naik kendaraan bahkan belanja selalu berhubungan dengan matematika. Lalu kebencianmu dengan matematika apakah bisa kamu dengan mudah meninggalkannya? This is impossible to go away from mathematics science.

Bahkan, ya bahkan ketika seseorang sudah meninggal dunia pun tubuhnya yang tidak berdaya itu pun berhubungan dengan matematika. Masuk ke liang lahat berbentuk model balok. Bila muslim dibungkus kain kafan berbentuk daerah persegi panjang dengan potongan-potongan kain yang beraneka. Di tali dengan tali dengan jumlah tertentu umumnya berjumlah ganjil.

Ini yang lebih dahsyat

Ketika memasuki negeri akhirat bahkan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa pun nanti akan "bermain dengan matematika".  Kok bisa?

Di negeri akhirat nanti ada satu hari namanya Yaumul Hisab di mana di situ akan dihisab atau dihitung amal baik dan amal buruk mana yang lebih banyak setelah hitungan itu selesai masuklah ke Yaumul Mizan yakni hari di mana ditimbang amal baik dan buruk mana yang lebih berat.

Tampaknya tidaklah mungkin orang meninggalkan matematika sampai nanti di akhirat, ini adalah ilmu dasar di mana-mana ada matematika. Maka jangan benci matematika Jika memungkinkan cintai dan belajarlah untuk menghisab diri sendiri dalam renungan muhasabah.

Wallahua'lam bi showwab.

Sabtu, 09 September 2023

HAORNAS, 9 September 2023

Gelanggang Semangat Pemenang


Gelora untuk menjadi yang tercepat, tertinggi, terkuat, terhebat, dan ter ter ter baik lainnya tentu baik bagi kita semua. Terlebih untuk generasi muda penerus perjuangan bangsa. Gelanggang Semangat Pemenang menginspirasi untuk berbuat terbaik dan menjadi juara dalam lini talenta yang diikuti. 

Lalu apakah ketika menjadi pemenang sudah berada dipuncak kesuksesan ? 

Bahagia dan bisa yakin membanggakan ?

 Jawabnya tentu terdapat relatifitas tergantung bagaimana sudut pandang pemenangan yang dicapai seseorang. 

Bilamana tujuan akhir menjadi pemenang dalam sebuah kompetisi atau perlombaan, tentu ketika menjadi pemenang seakan sudah finish dan mendapatkan kepuasan dalam pencapaian kemenangan.  Semangat berkobar untuk mencapai kemenangan dalam sebuah gelanggang tentu positif untuk sebuah kesuksesan.

Bahkan ketika Rasulullah pulang dari perang Badar yang  dahsyat dengan kemenangan gemilang, beliau sampaikan "kita pulang dari perang yang kecil dan menuju peperangan yang lebih berat lagi, yakni perang melawan hawa nafsu."

Kemenangan dengan berbalut kecurangan, kemenangan dengan buaian keculasan, bahkan kemenangan yang diiringi dengan integritas tinggi namun diikuti dengan kesombongan pun, tentu ini akan berbalik menjadi kekalahan yang hakiki. Sungguh di gelanggang kompetisi integritas harus dijunjung tinggi, namun tidak kalah pentingnya adalah sikap rendah hati ketika kemenangan itu telah diraih akan "menyempurnakan" kemenangan yang dicapai menjadi kemenangan yang lebih dahsat.

Akhirnya semua berpulang kepada individu yang bermain peran dengan semangat di arena / gelanggang untuk menuju kemenangan, pilihan bagaimana bersikap terbaik untuk menuju kemenangan yang hakiki atau kemenangan semu yang justru akan menjadi kekalahan yang sebenarnya.

Semoga tidak salah pilih, atau berbelok arah menjadi pilihan yang salah.

PERSIAPAN TUTUP USIA

  PERSIAPAN TUTUP USIA   Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda : "Sebaik-Baik Manusia adalah Yg Panjang Umurnya & Baik...