Himpunan Soal-Soal HOTS
(soal beserta kunci) Silahkan di klik soal yang dikehendaki, bebas boleh di download
Kelas 7
1. Literasi Kelas 7
2. Literasi ke 2 Kelas 7
Kelas 8
Kelas 9
1. Literasi Kelas 9
2. Literasi Inggris Kelas 9
Himpunan Soal-Soal HOTS
(soal beserta kunci) Silahkan di klik soal yang dikehendaki, bebas boleh di download
Kelas 7
1. Literasi Kelas 7
2. Literasi ke 2 Kelas 7
Kelas 8
Kelas 9
1. Literasi Kelas 9
2. Literasi Inggris Kelas 9
Veteran Pramuka Moyudan “Tersesat Bahagia” di Magelang
Hari itu Sabtu, 25 Oktober 2025, pagi yang sedikit mendung di Pedaran jadi saksi semangat 17 veteran pembina Pramuka Moyudan berwisata bersama ke Tol Kayangan dan pemandian air hangat Tempuran, Magelang.
Empat mobil sudah siap berangkat, dan suasana riuh penuh canda khas keluarga besar Pramuka.
🚗 Babak 1: Mobil Depan yang Sampai Belakang
Rombongan awalnya dipimpin kak Biman melaju di jalan sempit, namun sesampai di seputaran arah sawangan akhirnya dipimpin mobil Kak Supri yang gagah melaju paling depan. Tapi entah kenapa, saat sampai di tujuan... mobil paling depan ini malah tiba paling belakang!
Katanya sih, “Kami tadi pelan biar rombongan nggak ketinggalan…” — padahal sepertinya GPS-nya yang ketinggalan. 😄
💸 Babak 2: Bayar Dua Kali, Untung Bisa Retur
Lucunya lagi, di pintu masuk Tol Kayangan, mobil Kak Subiman semangat bayar tiket — tapi ternyata bendahara juga ikut membayar untuk mobil itu.
Akhirnya, harus “retur dana wisata” supaya nggak ada yang tekor.
Ini baru namanya disiplin administrasi ala Pramuka sejati! Bertanggung jawab dan dapat dipercaya 🤣
🗺️ Babak 3: Dipandu Google Map, Tapi Salah Mode
Jam 11.10 rombongan melanjutkan perjalanan ke pemandian air hangat Tempuran.
Kali ini Kak Yuli ditunjuk jadi penunjuk jalan, karena Sabtu sebelumnya sudah pernah ke sana.
Dengan percaya diri, beliau membuka Google Maps… dan memimpin jalan.
Sayangnya, GPS-nya masih mode kendaraan roda dua!
Alhasil, empat mobil besar harus masuk jalan kecil, sempit, lalu muter balik jauh-jauh.
Sepanjang jalan terdengar tawa dan komentar khas pembina:
“Ini baru latihan survival di jalan pedesaan, luar biasa!” 😂
💦 Babak 4: Masuk Kolam Anak-anak
Setelah perjuangan panjang, akhirnya sampai di pemandian.
Namun ternyata pemandian pertama yang dimasuki khusus untuk anak-anak!
Rombongan yang sudah siap rendaman terpaksa keluar lagi di tengah hujan deras, pindah ke pemandian sebelah.
Meski basah kuyup dan dingin, tawa tidak berhenti. Semua menyalahkan Kak Yuli — tentu dengan penuh sayang dan gelak tawa.
🚕🚕🚙🚗 Babak 5 : mobil belok kagol
Meskipun awal keberangkatan kak Biman menunjukkan kehebatannya sebagai driver di jalan sempit sekitar rumahnya, namun ternyata pulang dari Tempuran mobilnya "nyangkut" waktu mau belok. Alhasil mobil kak Yuli harus mudur dan berbagi tempat dengan mobil kak Bagyo. Uh uh uh, ternyata nyopirnya jago kandang kata kak Pur disambut tawa teman teman 😂
🍜 Babak 6: Soto Penutup Kebahagiaan
Sebelum pulang, rombongan menyempatkan diri mampir jajan soto hangat di sekitar Candi Mendut.
Obrolan penuh canda terus mengalir, membahas “kisah tersesat yang membahagiakan” hari itu.
Tak ada yang menyesal — karena di setiap salah jalan, selalu ada tawa, kebersamaan, dan kenangan.
Kesimpulan:
Walau pemandu jalan sempat “terlalu percaya diri” dan bendahara sempat “kelebihan bayar”, hari itu jadi bukti bahwa veteran Pramuka Moyudan tetap tangguh, ceria, dan kompak — bahkan saat salah arah sekalipun!
“Semut Kecil dan Hati yang Besar”
diambil dari kisah nyata
Oleh : Yuliyanto
Pagi itu, Bu Sumarni sudah bersiap sejak subuh. Dengan setelan sederhana dan map berisi fotokopi Kartu Keluarga, KTP, serta surat keterangan dari sekolah, ia menuju bank untuk mengaktivasi rekening bantuan PIP milik putranya, Raka, siswa kelas 8 di sebuah SMP negeri.
“Alhamdulillah, ini rezeki anak kita,” ucapnya kepada suaminya sebelum berangkat. Senyumnya merekah walau kakinya belum benar-benar pulih dari sakit beberapa minggu lalu.
Namun, perjalanan ke bank tidak semudah yang ia bayangkan. Di pertigaan kampung, motor yang ia tumpangi tiba-tiba mogok. Ia harus mendorongnya hampir satu kilometer. Sesampainya di bank, antrian sudah panjang. Cuaca panas terik menambah lelah di tubuhnya. Tapi ia tetap sabar. Demi anak.
Ketika akhirnya dipanggil ke teller, ia diberi tahu bahwa ada kesalahan penulisan nama di buku tabungan. Ia harus kembali ke sekolah untuk meminta surat pembetulan. Dengan lelah, ia menghela napas, lalu naik ojek menuju sekolah.
Dalam perjalanan pulang, tubuhnya terasa lemas. Sesampainya di rumah, ia mengeluh telinganya terasa gatal dan berdengung. Beberapa saat kemudian, rasa nyeri tak tertahankan menyerang telinganya. Suaminya panik, dan segera membawanya ke IGD RSU terdekat.
Di rumah sakit, dokter menemukan seekor semut kecil yang masuk cukup dalam ke saluran telinga. Entah dari mana datangnya. Rasa sakitnya bukan hanya fisik, tetapi juga hati yang mulai lelah.
Di ruang tunggu, sambil menahan perih dan lelah, suaminya menggenggam tangannya dan berkata pelan,
“Marni… mungkin ini pertanda. Kita bukan keluarga yang berlebih, tapi masih cukup. Lihatlah sekeliling. Masih banyak yang lebih membutuhkan. Bagaimana kalau PIP itu kita kembalikan saja? Biar jadi jalan rezeki orang lain yang lebih membutuhkan.”
Bu Sumarni terdiam. Air mata menetes pelan. Bukan karena sakit, tapi karena hatinya tersentuh. Ia sadar, niat baik tidak selalu harus diwujudkan dengan menerima. Kadang, menolak sesuatu demi orang lain juga bentuk paling tulus dari kebaikan.
Beberapa hari kemudian, Bu Sumarni mendatangi sekolah. Ia menyampaikan keputusan kepada pihak sekolah:
“Terima kasih atas bantuannya. Tapi kami ikhlas bila beasiswa ini diberikan pada anak lain yang lebih membutuhkan. Kami masih bisa berjuang.”
Kisah Bu Sumarni menyebar pelan di antara wali murid lain. Bukan karena dramanya. Tapi karena keberaniannya memilih memberi di saat bisa menerima.
Kadang, inspirasi datang dari hal kecil.
Bahkan dari seekor semut di telinga—yang mengetuk pintu hati dan membuka jalan kebaikan.
The Independence of Satanic
April 2025
Oleh : Yuliyanto
Hari pertama setelah Ramadan, mereka berpesta. Langit malam dipenuhi cahaya kembang api dan petasan yang meledak tanpa henti, bukan sebagai tanda syukur, melainkan pemborosan. Uang yang sebelumnya ditahan untuk zakat dan sedekah, kini dihamburkan untuk mercon dan hiburan tanpa makna.
Di sudut lain, pasar dan pusat perbelanjaan masih penuh sesak. Orang-orang yang sebulan lalu menahan diri kini berbondong-bondong memenuhi setiap gerai, membeli barang-barang yang tak benar-benar mereka butuhkan. Kemubaziran merajalela. Makanan lezat tersaji berlimpah di meja makan, namun sebagian besar akhirnya berakhir di tempat sampah.
Di jalanan, pemandangan pun berubah. Jika sebelumnya orang-orang berbondong-bondong menuju masjid, kini mereka lebih tertarik menghabiskan waktu di tempat hiburan, menikmati kemewahan dan pesta pora. Hedonisme tumbuh subur, menutupi jejak kesederhanaan dan keikhlasan yang telah ditanam selama bulan Ramadan.
Dan di masjid? Sepi. Saf yang sebelumnya rapat kini kembali renggang. Suara lantunan ayat suci yang biasa menggema kini digantikan oleh hiruk-pikuk duniawi. Ibadah yang sebulan lalu dijaga dengan penuh disiplin, kini mulai ditinggalkan. Setan-setan tertawa puas. Mereka telah kembali, dan manusia dengan sukarela kembali mengikuti jejak mereka.
Namun, tidak semua manusia terperdaya. Masih ada yang tetap teguh, mempertahankan kebiasaan baik yang telah mereka bangun di bulan suci. Mereka inilah yang menjadi pengingat, bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan latihan agar manusia tetap mampu menahan godaan setan, bahkan ketika belenggu telah dilepaskan.
Dan di antara kegelapan kemerdekaan setan, cahaya kebaikan itu masih ada—menunggu siapa saja yang mau tetap berjalan di jalan yang lurus.
Rukuh Apek
Catatan Lebaran 31 Maret 2025
Oleh : Yuliyanto
Lebaran tahun ini, kami memutuskan untuk bersilaturahmi ke rumah saudara di kampung lain. Di tengah perjalanan, kami mampir ke sebuah masjid Jami' yang cukup tua namun megah untuk menunaikan salat Dzuhur. Namun, ada satu hal yang luput dari perhatian yakni rukuh di masjid itu berbau apek.
Istriku yang hendak mengenakan rukuh itu langsung mengernyit. Aku melihatnya ragu-ragu, tetapi tak punya pilihan lain. Ia pun mengenakan rukuh itu dengan sedikit menahan napas. Apalagi sang imam melaksanakan shalat dengan sujud yang begitu lama. Begitu selesai shalat, ia segera keluar dengan ekspresi lega.
"Aduh, Mas, rukuhnya apek sekali," bisiknya padaku. "Sepertinya sudah lama tidak dicuci."
Aku hanya tersenyum kecil. Namun, sesuatu tampak mengusik benaknya. Di perjalanan pulang, ia terdiam sejenak lalu berkata, "Mas, aku baru ingat. Di masjid kampung kita, rukuhnya juga seperti ini, ya?"
Aku mengangguk, menyadari hal yang sama. Rukuh-rukuh yang tersedia untuk jamaah perempuan sering kali terabaikan. Dipakai berkali-kali, jarang dicuci, dan akhirnya berbau tak sedap.
Saat jamaah Shalat Subuh, istriku langsung semangat, ia mengumpulkan rukuh yang ada, membawanya pulang, dan mencucinya satu per satu. Tidak lama karena hari begitu terik, cucian pun sudah kering dan waktu Luhur tiba, segera rukuh/ mukena dibawa ke masjid dalam keadaan bersih dan wangi. Dan yang lebih mengesankan kebetulan sudah ada ibu-ibu dari kampung lain yang mau shalat Luhur di masjid.
Legaaaa.
Torani
Riak-riak putih bergulung-gulung seperti hendak menerbangkan kapal Kelimutu yang semakin lama semakin menjauh dari dermaga mewah Tanjung Mas Semarang. Kuraih angan kugapai mimpi kenangan melintas begitu indah bersama kapal tua 35 an tahun yang lalu. Bahtera besi yang setia mengarungi samudera nusantara mengantarkan anak bangsa dari sudut-sudut nusantara menuju asa masing masing.
Pelan namun pasti deru mesin tua terus menggetarkan lantai kayu yang juga sudah rapuh disana-sini. Kutatap samping kanan kiri kapal yang riak-riaknya kian berbusa-busa seperti dosen killer yang semangat sekali memberikan kuliah yang seringkali tidak aku pahami ketika perkuliahan dulu diiringi kantuk tak tertahankan di kampus.
Tatapanku terganggu dengan kelebatan bayangan hitam sambil menyeringai ringan seakan menghina diriku yang tertegun dan terpaku tak berdaya menatap kelebatan itu menjauh dari kapal. Senyuman bulan separuh tak mampu menjelaskan apa itu kelebatan yang lenyap ditelan malam. Merenung, mengingat, menjuntaikan harapan untuk memahami apa yang terjadi, sesaat aku melongo sendirian dikesepian malam diombang ambing ombak tengah laut Jawa yang mendesirkan angin asin.
Tarawani, ya tarawani penduduk setempat sekitar Makasar menyebut kelebatan hitam tersebut. Tarawani menjadi maskot sebuat stasiun TV swasta waktu itu. Ternyata bukan bayangan yang menyeramkan ketika aku tahu pagi harinya banyak ikan terbang itu berada disekitar kapal. Subhanallah begitu indah melihat mereka terbang dengan "sayap" yang tidak mengepak dan beresiko disambar burung pemangsa ikan segar. Aku belum pernah memakan ikan tarawani, rasanya pingin mencoba sedapnya tarawani bakar.
Budaya warga Makasar menangkap ikan tarawani terangkum dalam Torani sebagai sebutan perburuan telur ikan tarawani.
Mak Cess
Ketika embun pagi menyentuh daun, seakan menenangkannya dari kerontang hari sebelumnya, datanglah seorang pendidik senior ke hadapanku, membawa beban yang terlihat sepele namun ternyata menyesakkan hati.
"Assalamualaikum, permisi Pak, saya ingin mencurahkan isi hati," katanya dengan nada yang serupa angin lembut, meski aku tahu di balik kata-katanya, badai sedang bergejolak.
Dalam hatiku, timbul pertanyaan: Apa gerangan badai yang sedang mengguncang damai hatinya? Bukankah selama ini ia selalu tenang bak danau tanpa riak?
"Saya kemarin mendapat tugas untuk menghadiri bimtek. Lalu, diberikanlah saya secarik kertas SPPD, dan sekarang sudah cair dana yang diberikan oleh Ibu Bendahara," katanya dengan bibir bergetar, seperti daun di ujung ranting yang rapuh. Namun, sebelum ia melanjutkan, kucegat dengan pertanyaan tajam, "Lalu, apa yang menjadi masalah, Bu?"
"Saya juga mendapat uang transport dari tempat bimtek, tapi kan aturannya tidak boleh double. Saya takut uang ini berbau haram, Pak," katanya, dan aku bisa merasakan betapa hatinya berguncang seperti daun yang hampir terlepas dari rantingnya.
Sejenak aku terpaku, pikiranku berlari-lari mencari jawaban yang tepat. Di satu sisi, ada banyak orang yang hanya mau bergerak jika dijanjikan emas atau perak. Namun, di hadapanku, ada jiwa yang menolak limpahan berlebih, khawatir kalau itu adalah tetes air yang mencemari kebeningan hatinya. Di zaman seperti ini, di mana banyak yang menunggu pelangi hanya untuk mengambil emas di ujungnya, aku berhadapan dengan seseorang yang ingin melepaskan emas itu kembali ke alam.
Dengan hati-hati, aku mencoba merangkai kata-kata, seolah menenun benang sutra dalam diam, "Bu, beberapa kali Ibu telah saya tugaskan dalam berbagai kegiatan, tetapi tidak ada transport atau kompensasi. Maka, apa yang Ibu terima saat ini adalah pengganti dari apa yang telah Ibu keluarkan sebelumnya. Ini bukanlah bayaran ganda yang melampaui batas, melainkan sekadar penyeimbang neraca yang pernah berat sebelah."
Namun, si ibu tetap teguh, seperti karang di lautan, menghadapi ombak yang terus menggulung. Ia ngotot ingin mengembalikan emas yang ia rasa bukan miliknya.
Akhirnya, aku menyerah pada kebaikan hatinya, "Bu, jika memang hati Ibu belum juga tenang, belanjakanlah uang itu di mana saja yang menurut Ibu bisa membawa kedamaian. Yakinlah, itu adalah hak yang sudah sepatutnya diterima."
Dengan wajah sebersih pualam, si ibu akhirnya menerima saranku, dan pergi setelah berpamitan. Ketika ia pergi, aku tertunduk, merenung, dan tersentuh oleh keikhlasannya yang datang dari lubuk hati yang terdalam. Ia bagaikan embun yang menyentuh relung jiwaku, membawa kesejukan yang tak terduga.
Hatiku menjadi tenang, ayem tentrem, seolah-olah melihat cahaya keemasan turun dari langit, membayangkan jika sikap seperti itu dimiliki oleh banyak orang. Mungkin saja, keberkahan hidup akan mengalir tanpa henti, seperti aliran air jernih yang tak pernah kering. Mak Cess.
Himpunan Soal-Soal HOTS (soal beserta kunci) Silahkan di klik soal yang dikehendaki, bebas boleh di download Kelas 7 1. Literasi Kelas 7 2. ...