Jumat, 07 Agustus 2026

Ketika Adzan Tak Lagi Terdengar

 

Refleksi rusaknya Amplifier Masjid

Oleh : Yuliyanto

Suatu sore, suara yang biasanya mengisi langit kampung mendadak hilang. Bukan karena muazin tidak datang, bukan pula karena waktu salat berubah. Ternyata amplifier masjid mengalami kerusakan. Adzan tetap berkumandang, tetapi hanya terdengar oleh beberapa orang yang berada di sekitar masjid.

Saat itulah saya menyadari, betapa berbeda reaksi setiap orang.

Mereka yang selama ini setia melangkahkan kaki ke masjid merasa ada yang hilang. Mereka berkali-kali melihat jam, bertanya kepada tetangga, bahkan ada yang terlambat berjamaah karena tidak mendengar panggilan seperti biasanya. Hati mereka gelisah, sebab adzan bukan sekadar penanda waktu, tetapi undangan yang selalu mereka nanti.

Ada pula yang sesekali ke masjid. Mereka sempat bertanya, "Mengapa hari ini tidak ada adzan?" Namun setelah tahu penyebabnya, sebagian memilih tetap di rumah. Rasa peduli itu ada, tetapi belum cukup kuat untuk menggerakkan langkah.

Lalu ada yang bahkan tidak menyadari apa pun telah terjadi. Tidak ada adzan, tidak ada kegelisahan. Seolah tidak ada yang hilang. Sebab memang sejak lama, panggilan itu tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Barangkali, rusaknya amplifier itu bukan sekadar kerusakan alat. Ia seperti cermin yang memperlihatkan keadaan hati kita.

Orang yang mencintai sesuatu akan segera merasa kehilangan ketika sesuatu itu tak lagi hadir. Seorang ibu akan gelisah ketika sehari saja tidak mendengar suara anaknya. Seorang perantau akan rindu ketika lama tidak mendengar kabar dari kampung halaman. Demikian pula seorang hamba yang mencintai rumah Allah, ia akan merasa ada yang kurang ketika panggilan adzan tak lagi menyapa telinganya.

Sesungguhnya, yang paling menyedihkan bukanlah amplifier yang rusak. Alat itu bisa diperbaiki, diganti, atau dibelikan yang baru. Yang jauh lebih menyedihkan adalah ketika hati telah lama rusak sehingga adzan yang berkumandang lima kali sehari pun tidak lagi mampu menggerakkan kaki menuju masjid.

Mungkin selama ini kita mengira telinga kita masih berfungsi dengan baik. Padahal bisa jadi yang kehilangan daya dengar bukan telinga, melainkan hati. Adzan terdengar, tetapi tidak sampai mengetuk nurani. Kalimat Hayya 'alash shalah... Hayya 'alal falah... melintas begitu saja tanpa meninggalkan jejak.

Betapa banyak orang yang rela bergegas ketika mendengar dering telepon dari atasan, bunyi notifikasi pesan, atau pengumuman diskon. Namun ketika Yang Maha Pencipta memanggil melalui adzan, langkah itu terasa begitu berat.

Kerusakan amplifier hanya berlangsung beberapa hari. Tetapi bagaimana jika hati kita telah bertahun-tahun tidak lagi tersentuh oleh panggilan Allah?

Semoga peristiwa sederhana ini menjadi pengingat. Jangan sampai kita baru merasa kehilangan ketika suara adzan benar-benar tak terdengar. Jangan sampai kita baru menyadari indahnya berjamaah ketika kesempatan itu telah berlalu.

Karena pada akhirnya, yang akan kita rindukan bukan kerasnya suara amplifier, melainkan momen ketika Allah masih berkenan memanggil nama kita melalui lantunan adzan.

Semoga ketika adzan kembali menggema, bukan hanya telinga yang mendengarnya, tetapi hati yang menjawabnya.

"Ya Allah, jangan biarkan hati kami menjadi tuli terhadap panggilan-Mu. Jadikan setiap adzan sebagai undangan yang selalu kami sambut dengan langkah menuju rumah-Mu."

Rabu, 05 Agustus 2026

PERSIAPAN TUTUP USIA

 PERSIAPAN TUTUP USIA

 

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :

"Sebaik-Baik Manusia adalah Yg Panjang Umurnya & Baik Amalannya". Sedangkan seburuk-buruk manusia itu yang panjang umurnya dan juga jelek amalannya" (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim, hadits dari Abu Bakrah, Shahiihul Jaami’ 3297)

Rasulullah صلى الله عليه و سلم ditanya :

"Mukmin manakah yang paling cerdas ?" Beliau bersabda: "Seseorang yang paling banyak 'mengingat kematian' & yg paling baik "persiapannya" untuk Hidup Setelah Mati. Mereka itulah orang-orang yang Cerdas"  (HR. Ibnu Majah, Ash-Shahihah no.1384)

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata :

Umur (manusia) tergantung di akhirnya dan amalannya tergantung penutupnya. Dan barang siapa yang 'beramal jelek' di akhir umurnya, maka dia akan 'bertemu' dengan Rabb-nya dalam keadaan Jelek. (Fawaa-idul Fawaa-id hal 342)

Imam al-'Utsaimin رحمه الله berkata :

"Maka sdh selayaknya orang yg usianya semakin menua untuk "memperbanyak" amal shalih, meskipun para remaja juga 'Seharusnya' demikian. Karena manusia tidak tahu kapankah ia akan meninggal. Bisa saja, Seorang Pemuda "Meninggal" Di Usia Mudanya, atau Ajalnya Tertunda hingga ia TUA. Akan tetapi, Yang PASTI, orang yang sudah berusia Senja ia lebih dekat kepada Kematian. Karena ia telah menghabiskan jatah usianya (selama di dunia)" (Syarah Riyadhus Shalihin I/348)

Di antara amal persiapan penutup usia:

1.         Mengamalkan amalan yang Wajib

2.         Menghindari hal-hal yang diharamkan, makruh, syubhat, & sia-sia tdk bermanfaat

3.         Lebih menambah Amalan Sunnah

4.         Senantiasa beristighfar / bertaubat

5.         Memperbanyak tasbih, tahmid, dan membaca shalawat & juga dzikir lainnya, terutama membaca dzikir pagi & petang

6.         Rutin dalam mempelajari Al-Qur'an

7.         Aktif utk menghadiri "majelis ilmu"

8.         Berkumpul dgn orang2 yang shalih

9.         Memperbanyak amal² jariyah yang pahalanya terus mengalir setelah wafat sprti; bersedekah, mengajarkan ilmu dll

10.  Mengusahakan mengawali hal-hal yg baik agar nantinya "diikuti" orang lain sehingga 'pahala mengalir' sampai mati

11.  Perbaiki Hubungan dgn orang lain, bayar hutang, minta maaf, & kembalikan milik mereka yang "dulu" pernah diambil

12.  Sering Berdoa agar istiqomah, dan wafat dengan kondisi "husnul khatimah"

13.  Memperbesar harapan kpd ALLAH, tidak berburuk sangka dan berputus asa

14.  Menyambung 'Silaturrahim' dengan kerabat mendatangkan umur yg "berkah"

15.  Memperbanyak syukur nikmat, dan sabar atas segala bentuk ujian & cobaan

16.  Membiasakan utk selalu berwudhu terutama dalam kondisi saat akan "tidur, agar saat nyawa kita di ambil kita dalam keadaan suci setelah berwudhu

17.  Sering berpesan kepada anak-anak dan keturunan agar jadi shalih-shalihah, gemar mendoakan orang tua baik ketika hidup, atau setelah meninggalkan dunia

18.  Menjaga "kesehatan fisik" dgn cara menjaga pola makan sehat, Berolahraga ringan, dan istirahat yang cukup, supaya mendukung kelancaran ibadah-ibadah di atas.

19.  Semakin kikir dengan waktu karena jatah usia hidup di dunia semakin sedikit sehingga "Semangat" menyiapkan bekal

20.  Ber-sungguh-sungguh melakukan "Seluruh" amalan-amalan di atas sampai datangnya "ajal"

 

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :

"Barangsiapa yang melakukan kebaikan pada usia yang masih tersisa, maka dia 'Diampuni' dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yg melakukan "Keburukan" pada usia yang masih tersisa, maka dia pun akan disiksa karena dosa-dosa di masa lalunya dan pada usia yang tersisa" (HR Ath-Thabrani, hadits dari Abu Dzar, lihat Shahihut Targhiib wat Tarhiib no. 3156)

Ketika Adzan Tak Lagi Terdengar

  Refleksi rusaknya Amplifier Masjid Oleh : Yuliyanto Suatu sore, suara yang biasanya mengisi langit kampung mendadak hilang. Bukan karena m...