Sabtu, 09 September 2023

HAORNAS, 9 September 2023

Gelanggang Semangat Pemenang


Gelora untuk menjadi yang tercepat, tertinggi, terkuat, terhebat, dan ter ter ter baik lainnya tentu baik bagi kita semua. Terlebih untuk generasi muda penerus perjuangan bangsa. Gelanggang Semangat Pemenang menginspirasi untuk berbuat terbaik dan menjadi juara dalam lini talenta yang diikuti. 

Lalu apakah ketika menjadi pemenang sudah berada dipuncak kesuksesan ? 

Bahagia dan bisa yakin membanggakan ?

 Jawabnya tentu terdapat relatifitas tergantung bagaimana sudut pandang pemenangan yang dicapai seseorang. 

Bilamana tujuan akhir menjadi pemenang dalam sebuah kompetisi atau perlombaan, tentu ketika menjadi pemenang seakan sudah finish dan mendapatkan kepuasan dalam pencapaian kemenangan.  Semangat berkobar untuk mencapai kemenangan dalam sebuah gelanggang tentu positif untuk sebuah kesuksesan.

Bahkan ketika Rasulullah pulang dari perang Badar yang  dahsyat dengan kemenangan gemilang, beliau sampaikan "kita pulang dari perang yang kecil dan menuju peperangan yang lebih berat lagi, yakni perang melawan hawa nafsu."

Kemenangan dengan berbalut kecurangan, kemenangan dengan buaian keculasan, bahkan kemenangan yang diiringi dengan integritas tinggi namun diikuti dengan kesombongan pun, tentu ini akan berbalik menjadi kekalahan yang hakiki. Sungguh di gelanggang kompetisi integritas harus dijunjung tinggi, namun tidak kalah pentingnya adalah sikap rendah hati ketika kemenangan itu telah diraih akan "menyempurnakan" kemenangan yang dicapai menjadi kemenangan yang lebih dahsat.

Akhirnya semua berpulang kepada individu yang bermain peran dengan semangat di arena / gelanggang untuk menuju kemenangan, pilihan bagaimana bersikap terbaik untuk menuju kemenangan yang hakiki atau kemenangan semu yang justru akan menjadi kekalahan yang sebenarnya.

Semoga tidak salah pilih, atau berbelok arah menjadi pilihan yang salah.

Kamis, 24 Agustus 2023

 Jahat di Negara Karang kabondetan


politisasi program beasiswa semodel PIP ala Bondet 


Misal

Usulan beasiswa PKKP (program karang kabondetan pintar) sekolah ada nama X, Y, Z ketiganya sudah di ACC dalam status usulan sudah SK

di cek di SK yang muncul hanya dua siswa X, Y sedangkan yang  Z tidak muncul

ditengah keheranan operator, muncul orang tua Z dengan membawa formulir Partai TERTENTU dari DPR Karang Kabondetan pusat dan diformulir tersebut tertulis virtual account untuk aktivasi di bank BONDET, tinggal TTD KS

duuuuuuuuuh

pie negarane BONDET arep apik nek pendidikan we didadekke kendaraan untuk melanggengkan kekuasaan

Jelas keterlibatan oknum bisa mencabut data Z keluar dari system sipintar dinas pengajaran Karang Kabondetan

mumet nek mikir Negara karang kabondetan ngene iki


Bondet bondet bondet kapan kowe sadar

 Kecelik II

 

"Bersyukur beberapa tahun ini sekolah kita tidak ada kasus siswa hamil berarti kita cukup berhasil menjaga akhlak dan karakter dalam pergaulan." begitu dialog singkat dalam diskusi guru BK dan KS. Benarkah demikian?

duuuuh jangan Kecelik


Coba sesekali tengok HP anak anak, libatkan guru muda yang akan lebih lancar berselancar didunia maya dengan keyword ala anak-anak milenial. Nyesek .... bener-bener nyesek.

Bukan porno-pornoan yang tempo dulu kita kawatirkan. Justru saat ini hubungan sejenis yang membahayakan dan semacam laten kasusnya. Kalau sejenis kan "tidak akan ada" konsekuensi hukum maupun sosial, akibat langsung berupa kehamilan kan juga tidak ada. Bebaaaaaaas katanya. 

Kecelik

Dikira baik-baik saja, ternyata menjadi sangat berbahaya seperti kaum kafir bangsa Sodom zaman Nabi Luth. Sungguh ini penyakit dan bahaya laten yang merisaukan. Rusaknya generasi karena hubungan sesat ini. Dan tidak mengherankan ada anak usia remaja yang sudah terkena HIV bukan karena zina laki perempuan, tapi karena hubungan sejenis.

Gelombang informasi dari luar negeri yang membebaskan dan melegalkan hubungan sejenis, bahkan dengan hewan dibeberapa negara sungguh miris jika itu terjadi di tanah air kita. Pasang telinga, pasang mata, pasang rasa, waspada generasi kita akan dirusak oleh banyak hal dari mana saja.

Sabtu, 19 Agustus 2023

 Kecelik


Tertegun.... ya tertegun aku ketika menyaksikan realita yang sebelumnya hanya saya bayangkan hal ini ada. Ternyata benar adanya. Ketika melihat persiapan live streaming yang dilakukan anak-anak OSIS aku berkesempatan memegang dan melihat HP siswa. Ternyata aplikasi AI benar-benar sudah digenggaman siswa. Sedikit kuintip apa riwayat isinya, ternyata beberapa pertanyaan yang lazim ada pada saat pembelajaran dan jawaban dari otak pintar AI.

Duh begini ini yang selama ini kukawatirkan, guru akan kecelik. 

Setelah guru dilatih menyusun soal HOTS, beberapa key word kriteria soal kucobakan ke AI, dan ternyata..... jawaban sungguh mencengangkan. Soal yang berkriteria analisis atau konektifitas data dijawab dalam hitungan detik. 

Sebelumnya soal matematika yang begitu kelihatan rumit dengan hitungan yang dikira HOTS, dengan mudah dijawab pula oleh soft ware setara AI. Kecelik ... bener-bener kecelik.


Tantangan guru diabad ini antara banyak kemudahan dan banyak kesulitan yang mesti disiasati. Saatnya kawan kawan guru tidak cukup hanya keriuhan dengan trends merdeka belajar, tapi konten inovatif tetap terus harus digaungkan.

Hampir pasti, banyak pertanyaan dari guru dengan mudah dapat dipatahkan oleh siswa.

Ayo para guru berpacu, berkreasi, berinovasi agar tidak kecelik.

Senin, 31 Juli 2023

 Multi Kebaikan Dalam Satu Waktu


Dipagi yang sejuk meskipun terasa dingin ada banyak kebaikan yang bisa dilakukan dijam 06.30-06.59 WIB. Berdiri di gerbang sekolah dengan senyum menawan,  jabat tangan hangat dan doa untuk anak anak kita.

1. Semangat bersedekah cukup dengan senyum. 

"Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah bagimu". Senyuman yang manis dengan hati yang tulus insya Allah akan melembutkan hubungan antara kita dengan anak-anak.

2. Jabat tangan menggugurkan dosa dan menghilangkan dengki.

“Saling bersalamanlah (berjabat tanganlah) kalian (maka) akan hilanglah kedengkian/dendam. Saling memberi hadiahlah kalian maka kalian akan saling mencintai dan akan hilang permusuhan”.

3. Saling mendoakan kebaikan dan keselamatan

“Jika seseorang dari kalian bertemu dengan saudaranya maka ucapkanlah salam. Jika kemudian keduanya terhalang oleh pohon atau tembok atau batu, kemudian bertemu lagi, maka ucapkanlah salam lagi.”


 JENGKEL

Perasaan Jengkel muncul saat menghadapi siswa yang tidak sesui dengan harapan guru saat KBM berlangsung. 

Mohon saat perasaan itu muncul, tetapkan hadapi dengan kepala dingin dan hati yang tenang. Jangan sampai mengumpat atau memaki apalagi sampai mengeluarkan siswa dari kelas tanpa pengawasan guru. atau bahkan guru yang meninggalkan kelas karena jengkel dengan satu siswa "trouble maker".

Siswa yang kita tinggalkan jikalau terjadi "sesuatu" tetap menjadi tanggung jawab guru pengampu di jam KBM tersebut. 

Mari kedepankan mendidik dengan hati dan pikiran jernih.

Rabu, 10 Mei 2023

Keteladanan Budaya Jawa pada Hari Kamis Pahing

 Keteladanan Budaya Jawa pada Hari Kamis Pahing

(sebuah refleksi ringan)


    Warga sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Hari Kamis Pahing diwajibkan memakai pakaian adat Yogyakarta. Hal ini bagian dari sebuah misi besar untuk melestarikan budaya tradisional dalam hal berbusana. 

    Dalam pelaksanaan di sekolah, nampaknya belum mudah dan mulus sesuai harapan. Tentu ini bagian dari proses pendidikan yang terus menerus dikawal oleh civitas sekolah. Guru berusaha mengingatkan siswa tentang berpakaian yang benar (lebih tepat mendekati benar) sesuai tuntunan adat.

    Keteladanan dari pimpinan, guru, dan tenaga administrasi diperlukan agar siswa dapat melihat contoh yang baik. Peribahasa *"keteladanan lebih berharga dari beribu kata nasehat"* perlu dipertegas dengan tindakan nyata untuk mengawal, menasehati, dan mengondisikan iklim yang baik dalam berbusana adat jawa ini.

    Jikalau pimpinan, guru atau tenaga administrasi masih ada yang memakai sepatu tentu akan kesulitan mengajak siswa membudayakan memakai selop. Termasuk lembaga diatas sekolah dalam hal ini Dinas Pendidikan. Pegawai di Dinas Pendidikan jika masih ada yang belum memakai busana dengan benar (lebih tepat mendekati benar) tentu menjadi teladan negatif bagi pimpinan sekolah, guru, maupun tenaga administrasi yang kebetulan berkunjung _sowan_ ke kantor Dinas Pendidikan.

    Kapan budaya berbusana jawa yang ideal akan terlaksana masif? Tentu ini menjadi impian besar para pemerhati budaya. Bagi kita insan pelaku pendidikan di sekolah, target kapan waktunya tidaklah begitu penting, yang terpenting terus berkarya mengondisikan atmosfer dilingkungan satuan pendidikan agar mendukung upaya pelestarian budaya ini. Kita bisa berperan meskipun kecil untuk membantu impian besar dalam melestarikan budaya jawa. Mari berperan mewujudkan Yogyakarta istimewa yang sesungguhnya, meskipun peran kita masih sangat kecil.


_Sugeng makaryo_

Ketika Adzan Tak Lagi Terdengar

  Refleksi rusaknya Amplifier Masjid Oleh : Yuliyanto Suatu sore, suara yang biasanya mengisi langit kampung mendadak hilang. Bukan karena m...