Wong Tua
Oleh : Yuliyanto
Menjadi tua atau dituakan itu banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh orang yang belum tua atau belum dituakan. Berat memang menanggung "usia" yang telah di"tua"kan.
Real, orang "tua" sering tidak bisa dimengerti oleh anak atau orang yang jauh beda usia. Bisa jadi memang wawasan orang "tua" yang kurang pener, walaupun tidak sedikit pula orang "muda" yang kurang pener wawasan.
Berkolaborasi untuk mensinergikan sesuatu pun sering menjadi suatu permasalahan tersendiri. Tidak dipungkiri bahwa untuk mengubah sesuatu dibutuhkan generasi yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Saling menghargai dan memahami karakteristik masing-masing merupakan modal dasar sebenarnya untuk tumbuhnya sinergitas di antara keduanya. Sehingga tidak perlu adanya pemberontakan yang dilakukan oleh kalangan muda atau suasana diktator yang diciptakan oleh kalangan tua.
Ternyata keduanya berpangkal pada karakter untuk bisa saling menghargai dan mengerti serta memahami. Untuk mengesampingkan ego tidaklah mudah, apalagi harus membunuh ego sendiri.
Seperti kisah di pedukuhan Karang Kadempel, orang tua yang bijak itu seringkali ditinggalkan oleh anaknya sendiri bersama kawan pemuda yang lain untuk melakukan gerakan-gerakan perbaikan versi anaknya. Ki Semar Badranaya hanya bisa mengelus dada sambil merenungi nasibnya yang sudah semakin "tua". Ingin rasanya meninggalkan ke"tua"an yang ia sandang namun tidak tega karena kepercayaan dari rakyat Karang Kadempel yang selama ini menggantungkan nasehat kepada Ki Semar.
Dengan seberkas cahya harapan, semoga generasi muda penggantinya memiliki akhlak yang mulia untuk menghargai yang lebih tua, bagaimanapun apabila usia dipanjangkan ataupun orang sudah menjadi dituakan, banyak keterbatasan dan hal-hal yang tidak bisa dimengerti pada waktu itu.
Transformasi diri sendiri untuk transfer energi positif diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar